Belajar – Sebuah Proses Berkelanjutan Tiada Akhir

Ditinjau dari sudut pandang mana pun juga, usia saya sudah tidaklah muda lagi. Namun, satu hal yang terjadi justeru pada usia demikian ini “libido” belajar saya semakin berkobar. Memang untuk profesi yang selama ini saya tekuni, menuntut “pembelajaran” yang tiada akhir, berkesinambungan dan terus berlanjut. Teknologi yang setiap saat ter “update” mau tidak mau harus diikuti dan dipelajari. Peraturan-peraturan atau Code di bidang structural engineering terus berkembang dengan cepat, yang tertuang di dalam acuan-acuan yang kita kenal dengan istilah  “Code”. Apalagi untuk kondisi negara Indonesia, peraturan-peraturan yang dari dulu memang sudah ada, sebagian besar peninggalan/warisan “jadul”, jaman Belanda. Banyak sekali Peraturan-peraturan untuk bangunan teknik sipil adalah warisan jaman penjajahan Belanda. Sehingga memang sangat perlu di perbaharui dan disesuaikan dengan perkembangan jaman. Semasa saya masih kuliah, peraturan semacam ini masih banyak digunakan para dosen yang notabene juga produk pendidikan jaman baheula. Celakanya, kita tidak punya referensi yang cukup dari textbook-nya, kalaupun ada, bahasanya adalah bahasa Belanda dan Jerman. Walhasil, hanya menerima mentah-mentah sebuah “code” tanpa bisa menggali lebih mendalam, karena kendala bahasa.

Tapi cukup beruntung bahwa pada masa kuliah saya masa itu, sudah banyak buku-buku terbitan negeri paman sam, yang bahasanya lebih familiar dan peraturan-peraturan pun sudah mulai diperbaharui seiring dengan semakin banyaknya lulusan S2 dan S3 yang balik dari United State.

Belajar dalam tahap “post-graduate”, saya rasakan lebih mudah dan lebih cepat terserap. Mungkin disebabkan tidak adanya beban yang mengharuskan seseorang untuk “lulus ujian” atau “tidak lulus ujian”, disamping itu pula sudah tentu didukung dengan wawasannya semakin luas setelah menceburkan diri ke dalam “dunia kerja yang nyata”. Pengalaman-pengalaman selama bekerja yakni “menjadi pelaku” di dalam bidang konstruksi sangat bermanfaat untuk menambah “deposito” intuisi seorang ahli teknik. Learning by doing, sepertinya memang betul 100 %.

Belajar sesungguhnya adalah sebuah proses yang “sangat menyenangkan” bagi saya pribadi, karena dibalik motif belajar terdapat sesuatu harapan akan terbukanya “sebuah pertanyaan”. Layaknya sebuah misteri yang dengan harap-harap cemas akan terungkap……….

Ilmu yang gentayangan di dunia structural engineering adalah ilmu yang luas tak terbatas. Saking banyaknya “galian” ilmu tersebut, boleh taruhan tidak ada satu pun sarjana teknik sipil yang “mampu menguasai” dunia kangouw nya dengan tingkatan “sempurna”, atau mampu menguasai semua ilmu teknik sipilnya. Akhirnya, setiap saat selalu merasa “kurang”, sehingga tuntutan untuk “”belajar lagi” tak pernah surut. Haus akan belajar. Sampai kapan pun, selama masih ingin eksis dan konsisten pada habitatnya.

Selain tidak ada beban seperti saya sebutkan sebelumnya, tatanan paradigma post graduate sudah pasti sangat berbeda jika dibandingkan dengan paradigma semasa masih sekolah. Simpul-simpul yang menghalangi perkembangan otak selama ini seolah-olah lebih terbuka sehingga apapun yang dipelajari akan lebih mudah dipahami, lebih mudah terserap.

Meskipun baru sempat mencapai strata-1, sepertinya hasrat dorongan birahi untuk melanjutkan ke strata-2 bahkan strata-3 tak pernah surut. Ereksinya masih kuat dan keras. Hahahahaha…… Karna memang belajar adalah sebuah proses yang menyenangkan. Saya sangat menikmatinya.

Karena belum punya kesempatan itulah, sebagai pelampiasan adalah melalui membaca. Baik dari buku, proseding, makalah, browsing di dunia lelembut (baca : dunia maya) dan sebagainya. Bila ada hal yang cukup menarik, saya postingkan lewat blog ini. Saya coba sharing-kan.

Ada beberapa rekan setelah mengunjungi blog ini berkomentar, bahwa blog saya “seperti blog seorang seniman” ketimbang blog seorang insinyur yang mantan dosen. Hehehe…. memang mantan seniman. Dan sepertinya masih begitu.

Memang saya tidak bermaksud men-design blog ini sebagai forum yang mutlak untuk bidang engineering, tetapi lebih bersifat umum yang mencakup banyak hal. Sehingga semua orang dengan latar belakang apa pun, cukup enjoy mengunjungi blog ini. Demikianlah harapan saya sejak semula.

jakarta, awal januari 2009

willy wungo

 

 

~ oleh Willy Wungo pada 2 Februari 2009.

7 Tanggapan to “Belajar – Sebuah Proses Berkelanjutan Tiada Akhir”

  1. hwahahahahahaha….. kalo ereksi kurang kuat bisa coba sanrego cap kuda ferari dari sulawesi………………

    *********ww********
    sedap kawan……..ereksi terus…

  2. wkwkwkwk balik lagi ah lom puas nicccccccc boleh kan

    ***********ww**********
    hehehe……..

  3. memang yang namanya belajar tuh ga mengenal usia dimana pun kapanpun usia berapapun kita masih wajib untuk belajar

    ***********ww***********
    terima kasih sdh berkunjung ke blog ini. salam kenal juga.

  4. setuju banget,.. belajar tak mengenal usia

    **********ww**********
    Terima kasih ya sudah berkenan berkunjung ke sini. Makin bertambah usia, tidak harus kendor menggali “sesuatu” ya Wee………………

  5. kita sellau merasa kurang, tak terus belajar untuk menutupi kekuarangan…ayo…belajar dan belajar…

    memang, kalimat-kalimat dalam postingan anda enak dan sedap untuk dilahap…thanks buat pengalaman yang memotivasi dari anda.

    maju terus dan tetap semangat!🙂

    ***********ww***********
    terima kasih Lin

  6. Setuju banget Will, belajar emang ga ada abisnya.
    Saya sebagai salah satu lulusan Sipil yg ga kepake ilmunya (malah udah banyak yg lupa, sekarang saya bergerak dibidang Telekomunikasi) merasa perlu membaca/belajar dari orang2 seperti anda, supaya tetap updated, minimal tau kalau ada sesuatu yg baru yg berhubungan dengan ilmu yg pernah saya pilih waktu lulus SMA dulu.

    keep posting bro..

  7. Makasih Mario, sudah berkunjung ke blog saya….memang sebelum di FB saya sudah coba bangun blog yang tidak hanya berisi topik2 engineering tetapi segala macam. Kebetulan saya suka menulis, esai dan sajak, disamping itu juga saya pencinta musik dan lagu2 tempo dulu… Dan sekali lagi terima kasih atas atensinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: