DALAM KELEMBUTAN PAGI

Dalam kelembutan pagi
Buana berseri
Di buai bayu dini hari
Sejuk di hati

Ku sambut pagi sendiri
Tanpa kau melati
Namun tak ku lupakan dikau
Satu denganku

Padamu angin ku bertanya
Mungkinkah abadi
Bahagiaku kini
Ku pasrah Illahi


Inilah lirik dari lagu Dalam Kelembutan Pagi, yang dinyanyikan Dhenok Wahyudi dan Jocky S.

(Ada baiknya jika anda simak dan dengarkan dulu lagunya sebelum melanjutkan membaca tulisanku di bawah ini. Klik http://www.youtube.com/watch?v=qn-3rvFvb8I
Pertama kali aku mendengarkan lagu itu, kalau tidak salah ingat adalah sewaktu aku kelas 2 SMA tahun 1977.
Dan jika aku kembali menyimak alunan musik dan liriknya, ingatanku segera melayang jauh berpuluh-puluh mil, kembali ke masa silam. Bagaikan sebuah tayangan film di layar, seolah-olah aku lagi berdiri di depan sebuah rumah putih, berdiri tegak di sudut jalan. Dan di sanalah cintaku pernah tumbuh, bersemi, berkembang, terkandas untuk kemudian seperti sebuah nada, datar kembali.

Ku sambut pagi sendiri                                                                              tanpa kau melati                                                                                             namun tak kulupakan dikau                                                                              satu dengan ku

kisah cinta semasa sekolah memang dan ternyata “begitu” menggetarkan jiwa. Daya cengkeramnya kuat luar-biasa, sehingga sangat mudah sekali terbongkar kembali setiap ada getaran yang mengusiknya.
Lagu Dalam Kelembutan Pagi ini, dengan sangat mudah mengusik memori-ku, dan tiba-tiba aku teringat akan seseorang, yang pernah begitu dekat denganku pada saat itu. Mungkin tak perlu kusebut namanya (yang merasa turut terlibat kasus ini “angkat tangan” sendiri saja yah..hahahaha). Atau mungkin juga ada yang mulai tersenyum cengar-cengir membaca tulisan aku ini karena mengerti apa yang tersirat dalam tulisan ini.
Dan, sebagai sebuah kekuatan yang disebut memori, atau kenangan…jika dikelola dengan baik dan bijak, sungguh akan menjadi sebuah “memoar” yang indah dan layak untuk dikenang seumur hidup. Bukan karena kekuatan cinta itu sendiri, tetapi kekuatan memori-nya. Cinta itu sendiri sudah pergi entah kemana setelah lebih dari 30 tahun berlalu. Namun artefak atau fosil dari situs yang namanya “kenangan”, chemistry nya sungguh beda, dia tetap akan hidup dan bertahan untuk waktu yang lama sekali.Jadi sesungguhnya, sebuah kenangan memang pantas untuk dikenang apabila suatu hari tiba-tiba “ia” mampir dalam benak, itu bukanlah sebuah dosa. Karena kehadirannya pun layaknya seperti pencuri atau hantu, yang tak seorang pun mampu mencegah kehadirannya.
Selamat datang Nostalgia.

~ oleh Willy Wungo pada 11 Januari 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: